Cethe, Rokok dan Pembicara Cethe
Cethe, sebenarnya adalah sebuah ramuan penambah aroma rokok yang diaplikasikan dengan cara dioleskan di batang rokok. Ramuan ini dibuat dengan bahan antara lain bubuk kopi khusus yang super halus, susu cokelat, gula cair dan pada beberapa tempat bahkan ditambah pula klelet atau candu. Akibatnya bila kita menyalakan sebatang rokok bercethe, asapnya akan berbau seperti kopi susu yang sedap. Saya kurang tahu apakah rokok Djarum Black cappucino mencontoh konsep cethe ini dan mengemasnya dalam bentuk yang modern.
Yang unik, setiap warung cethe memiliki resep cethe sendiri-sendiri, dengan rasa yang berbeda-beda. Begitu uniknya rasa ini, di beberapa tempat bahkan menyimpan rapat-rapat rahasia bahan pembuatnya.
Di wilayah Jawa Timur mataraman (Tulungagung dan sekitarnya), cethe bahkan nyaris menjadi sebuah kesenian. Kegiatan melukis di batang rokok menjadi salah satu cara mengisi waktu luang yang lumrah. Sebuah klub cethe bahkan memiliki semacam musium untuk mengabadikan rokok dengan lukisan cethe yang indah.Sebenarnya selain untuk menambah enak aroma rokok, cethe juga berfungsi sebagai penghemat rokok, karena waktu bakar tiap batang rokok bercethe akan lebih lama dibanding rokok tidak bercethe.
Namun kemarin, saya sadar ternyata tidak hanya rokok yang bercethe. Manusia juga bisa. Kebetulan kemarin saya mengikuti sebuah diklat, yang sebenarnya menyajikan materi yang sudah sangat umum sehingga nyaris tidak ada sesuatu yang baru yang didapatkan. Kesan yang saya lihat, kegiatan ini diadakan dalam rangka menghabiskan anggaran saja.Namun toh, kegiatan ini berlangsung selama tiga penuh.
Akibat dari kegiatan yang klise ini, semua pembicara yang tampil tampak terengah-engah dan kehabisan bahan untuk dibicarakan. Akibatnya banyak dari pembicara yang melumuribahasannya dengan penambah bahan pembicaraan dan menambah waktu bicara. Benar-benar tidak berguna.
“Pembicara cethe,” ujar saya sambil mengisap rokok bercethe yang disambut senyum dikulum beberapa peserta diklat yang lain.








Leave a Reply