Ayat-Ayat Cinta The Movie Final Review

ayat cinta

Mungkin sekarang sudah agak telat kalo saya membahas tentang film Ayat-Ayat Cinta yang menghebohkan itu. Berhubung sudah hampir 2 minggu film itu beredar di bioskop. Tapi jujur saja, saya sendiri sudah hampir satu bulan yang lalu menonton film AAC, bahkan sebelum dirilis di bioskop. Agak susah untuk mengatakan ini, tapi ya, saya menonton versi bajakan yang saya peroleh dari hasil mengunduh (download) dari internet. Saya tidak bermaksud membela diri untuk tingkah yang ‘tidak patut’ ini, namun ini saya lakukan karena -seperti jutaan pembaca novel AAC- saya didera rasa penasaran yang luar biasa untuk melihat sebuah film yang dibuat berdasarkan sebuah karya novel yang telah begitu dalam mempengaruhi jiwa saya.

Begitu dalamnya cerita AAC yang ditulis kang Abik ini mempengaruhi saya hingga saya beberapa bulan yang lalu telah menyiapkan surat resign dari pekerjaan saya saat ini, karena saya didera keinginan yang luar biasa untuk bersekolah di Universitas Al Azhar Kairo seperti yang dilakukan Fahri dan kawan-kawan. Saya begitu terpukau dengan keindahan Ukhuwah Islam, keindahan kota Kairo dan yang terutama saya tersadar ternyata dengan begitu banyaknya hal yang saya pelajari selama ini, masih ada satu hal yang hilang dari jiwa saya. Saya merasa kering dalam ilmu agama. Begitu banyak hal dalam agama saya yang selama ini tidak saya ketahui hanya karena saya keranjingan mencari ilmu dunia. Cerita kang Abik telah dengan sukses menyadarkan saya bahwa di ujung perjalanan kita di dunia ini pada akhirnya kita akan kembali ke haribaan Allah. Ternyata masih ada Akhirat setelah dunia. Subhanallah. Inna lillaahi wa Inna Ilaihi Rajiiun.

Kesan pertama saya setelah menonton film AAC? saya marah dan kecewa berat !
Saya melihat di depan mata saya sendiri, sebuah kisah yang ditulis begitu indah dan menyentuh ini telah diterjemahkan menjadi sebuah tayangan sinetron. Sebuah film sampah. Kekecewaan yang saya alami bertambah dalam karena saya sudah terlanjur berharap banyak untuk film ini setelah saya membaca halaman blog milik Hanung Bramantyo, sutradara film ini. Hanung mengatakan bahwa film AAC akan dia buat dengan mengedepankan sebuah idealisme. Saya kecewa. Apa yang saya lihat adalah sebuah kenyataan yang sangat mengecewakan dan menyakitkan hati. Melihat adegan Fahri dan Aisha yang digambarkan berciuman dalam kamar sangat-sangat menyesakkan hati saya. Inikah film yang dikatakan sang sutradara sendiri bernapaskan Islam? yang saya lihat dari film itu hanyalah kumpulan maksiat yang dibungkus tulisan Islam !

Kekecewaan ini berlangsung berminggu-minggu, bahkan hingga film ini ditayangkan di bioskop dan seperti diberitakan, telah meraup penonton hingga jutaan orang. Hingga akhirnya kemarin, saya bertemu dengan seorang teman saya, seorang pria, di sebuah warung kopi. Dia bercerita bahwa dia baru saja menonton film AAC karena dipaksa menemani pacarnya yang sangat ingin menonton film AAC yang ‘menghebohkan’ itu. Dia bilang kalau dia sampai berkaca-kaca dan malamnya dia memutuskan untuk sholat Isya. Saya terhenyak.

Saya kenal betul dengan teman saya ini. Dari semenjak pertama kenal dan bahkan sampai sekarang, saya tahu dia adalah seorang bajingan, maaf kalau saya sampai menyebut kata ini. Dan seumur hidupnya mungkin jumlah rakaat shalatnya bisa dihitung dengan jari tangan. Namun dia sampai ‘mbrebes mili’ hanya karena film AAC dan memutuskan untuk shalat Isya hanya karena dia menonton sebuah film. Yang lebih mengagetkan saya, ketika kemarin saya bertemu dengannya, dia memutuskan untuk melamar pacarnya.

Film AAC ya? film sampah itu?

Akhirnya, dengan membuang semua prasangka saya dan semua bayangan tentang kisah AAC yang pernah saya baca, saya menonton lagi film ini -kali ini di bioskop. Saya ternyata masih belum bisa membuang rasa tidak suka saya kepada film ini. Saya masih merasa kecewa. Tapi….

Ditengah-tengah gelapnya suasana bioskop dan dinginnya hembusan AC, saya melihat di sekeliling saya. Ada wajah-wajah yang dengan serius menyaksikan jalannya cerita. Saya lantas bertanya pada diri saya sendiri, berapa banyak orang dalam bioskop ini yang sudah pernah membaca novel AAC? dari sekian puluh orang ini mungkin bisa dihitung dengan sebelah jari tangan. Sama seperti ketika saya membaca novel AAC, saya tersadar. Novel dan film layar lebar adalah dua buah media yang berbeda. Dengan sendirinya penikmatnya pun berbeda. Ini adalah dua dunia yang berbeda. Atmosfer yang berbeda.

Orang-orang yang ada di gedung bioskop ini adalah orang-orang yang sama saat bioskop menayangkan ‘Buruan Cium Gue’ misalnya -atau film-film horor tentang setan, pocong dan lainnya- dimana napas agama diabaikan atau bahkan hanya dijadikan mantra pengusir roh halus. Dan disini, sekarang ini, saya bisa mendengarkan suara ustad Jefri melantunkan ayat suci. Di depan orang-orang yang seumur-umur belum pernah mendengar lantunan ayat-ayat suci, maaf kalau saya mengatakan demikian. Saya terhenyak. Dan kali ini saya menonton film ini dengan cara pandang sangat berbeda.

Dan saya keluar dari gedung bioskop dengan pandangan berbeda.
Menurut saya film ini bagus sekali. Tanpa mengabaikan segala kekurangan yang ada, film ini bagus. Saya sebagai seorang pembaca novel AAC mungkin tidak setuju melihat AAC menjadi seperti ini, namun harus saya akui, Hanung Bramantyo berhasil menyeret pemirsa film AAC yang bukan pembaca novel AAC untuk tersentuh, atau minimal tahu bahwa ada sebuah sisi lain di dunia ini.

Saya paham, kalau fim AAC ini dibuat persis sama seperti apa yang saya baca dalam novel, tidak akan mungkin film ini bisa menjangkau pemirsa dengan jumlah jutaan. Mungkin saya dan pembaca novel AAC akan merasa senang dan puas, namun bagaimana dengan orang-orang yang biasa menonton film di bioskop? tentu saja mereka akan merasa film AAC adalah sebuah film yang membosankan dan membuat mengantuk. Dan juga tidak mungkin film AAC memperoleh publikasi yang luar biasa seperti saat ini. Karena harus dengan jujur diakui, berkat adanya pro dan kontra inilah film AAC memperoleh publikasi gratis dan public attention yang luar biasa, bahkan sebelum diluncurkan di bioskop.

Cara syiar Islam dengan cara yang sangat ringan dan menghibur ini adalah sebuah cara yang sangat luar biasa. Hanung berhasil membawakan syiar Islam dengan cara yang sangat smooth, dengan cara yang ringan dan pop, tanpa membuat orang merasa digurui. Mungkin terlalu tinggi kalau saya membandingkan seorang Hanung dengan Sunan Kali Jaga, namun cara-cara Hanung membawa napas Islam dalam sebuah dunia yang terasing dari Islam ini adalah cara yang dilakukan Sunan Kalijaga saat beliau menyebarkan Islam di tanah Jawa. Saya berharap semoga ini hanyalah langkah awal dari seorang Hanung Bramantyo.

Salut untuk Hanung!

~ by rajaedan on 15 March 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: