Kegilaan Tuhan

Review The Madness of God by Shawni

Siapakah kita ini di hadapanNya? Dia yang Maha Kuasa, Maha Menentukan Segala Sesuatu, siapakah kita ini di mataNya?
Dengan kekuasaannya Dia mampu menuntun semua manusia menjadi baik. Tetapi dengan KuasaNya dia juga mampu menyesatkan manusia. Lalu apa motivasiNya?

Novel mengguncang karya Shawni ini dengan tidak sengaja saya temukan di sebuah toko buku beberapa bulan yang lalu. Terlambat memang, melihat buku yang saya miliki sekarang ini adalah terbitan April 2007. Setelah membaca isinya, saya sendiri sangat terkejut melihat novel sebaik ini tidak pernah saya dengar dan tidak mendapatkan review yang baik sama sekali (atau memang saya yang agak kuper), ataukah karena diterbitkan oleh Dastan Books, sebuah penerbit buku yang jarang terdengar dan bukannya oleh penerbit besar seperti Gramedia atau GagasMedia?

Tetapi yang jelas isi dari buku ini sangat unik, sebuah cerita yang menyentakkan kesadaran kita, dan sekaligus juga keimanan kita serta ketahuidan kita terhadap keesaanNya, keadilanNya menegakkan sunnatullah. Apakah memang manusia memiliki kebebasan berkehendak di dunia ini, sedangkan Allah memiliki kemahakuasaan terhadap segala segala sesuatu? Jika Tuhan Maha Kuasa dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar kehendakNya, maka bagaimana mungkin mahluk dapat disalahkan karena dosa-dosanya?

Alur cerita berkisar pada percakapan Buhairah, seorang pendeta nasrani yang pertama kali mengenali tanda-tanda kenabian dari Rasulullah, dengan Iblis, si terkutuk yang diusir dari surga karena menolak bersujud pada Adam.
“Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku?” Kata Iblis kepada Buhairah, ” kalau begitu atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasaNya. Aku bukanlah tuan bagi keinginanku sendiri.”
Siapa yang telah menyesatkan Fir’aun? Allah sengaja mengeraskan hatiNya agar mukjijatNya bisa disaksikan dan dikenang oleh dunia. Setiap kali, dan bahkan saat menjelang kematiannya, Fir’aun selalu ragu dan berpikir ,” aku akan melepaskan orang Yahudi itu.” Tapi Allah berkata ‘tobatmu tak diterima’ dan kemudian mengutuknya. Allah memang menciptakan Fir’aun dengan takdir seperti ini; Dia membutuhkan contoh bagi siapapun yang menentang Musa. Apalah gunanya seorang Fir’aun yang bertobat? Niscaya segala mukjijatNya akan tampak remeh dan konyol.
Dalam kehidupan memang selalu ada baik dan buruk, gelap dan terang. Itu adalah sunnatullah. Gelap diperlukan agar terang dapat terlihat. Lalu apakah Iblis memang adalah tokoh antagonis yang diperintahkan Allah untuk membuka tabir manusia, agar terlihat jelas siapa yang mencintaiNya dan yang durhaka kepadaNya? Apakah memang Iblis adalah mahluk yang memiliki ketauhidan paling tinggi di antara lainnya karena dia hanya bersujud kepada Allah dan bukan kepada ciptaanNya? Lalu dimana peran manusia jika Dia sudah menetapkan takdir atas diri seseorang? Benarkah manusia tidak memiliki kebebasan kehendak karena semua sudah diatur olehNya dan tidak ada sesuatu hal yang terjadi selain karena kehendakNya?
Satu lagi karya yang sangat provokatif dan menggugah. Majalah Gatra memberikan komentar singkat : Novel nakal yang apabila tidak dibaca hati-hati bisa menggelincirkan.
Anda tertarik?

~ by rajaedan on 17 March 2008.

One Response to “Kegilaan Tuhan”

  1. Sepertinya novelnya menarik tuh
    *mengingat keuangan y menipis*
    bisa pinjamin saya:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: